Reksadana merupakan salah satu produk investasi yang dapat memberikan imbal hasil yang tinggi kepada setiap investornya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa dalam berinvestasi tidak ada yang namanya gratis, termasuk berinvestasi di reksadana. Di reksadana kamu juga akan dikenakan sejumlah biaya – baik langsung maupun tidak langsung – saat melangsungkan aktivitas investasi. Misalnya seperti biaya transaksi jual beli, jasa manajer investasi, dan lain-lain.

Meski nilainya kecil, biaya reksadana ini tetap tidak boleh dianggap sepele. Sebab mereka dapat mengurangi jumlah maupun return investasi kamu secara signifikan jika dibiarkan begitu saja. Terutama kalau kamu salah dalam menerapkan strategi investasi, seperti terlalu sering membeli unit penyertaan reksadana dengan nominal yang kecil. Untuk itu, sebelum mulai berinvestasi, alangkah baiknya jika kamu mengenal terlebih dahulu 11 biaya dalam berinvestasi reksadana berikut ini.

Biaya Reksadana yang dibayar langsung oleh Investor

1. Biaya Pembelian Unit Penyertaan (Subscription Fee)

Umumnya, biaya reksadana yang pertama kali akan dikenakan kepada kamu adalah subscription fee (SF) atau biaya pembelian unit penyertaan reksadana. Biaya ini memiliki rentang harga 0 sampai dengan 5% dari total setiap transaksi pembelian kamu. Meski sekilas kelihatannya kecil, tapi menurut saya biaya ini terbilang lumayan tinggi lho karena cara hitungnya yang menggunakan persentase.

Kalau kamu investasinya Rp. 100.000, barangkali biayanya memang nggak akan seberapa. Palingan cuman seribu (kalau sf 1%), dua rebu (kalau sf 2%), atau paling mentok ya lima rebu (kalau sf 5%). Tapi kalau kamu investasinya Rp. 100 juta, otomatis biaya subscription fee-nya pun bakalan jadi lebih besar, yakni bisa Rp. 5 juta per satu kali transaksi. Hmm, masih lumayan tuh duitnya buat beli hp xiaomi. Hehe ..

Walaupun begitu, sekarang ini saya justru melihat rata-rata untuk membeli reksadana investor sudah tidak lagi dikenakan biaya pembelian sama sekali, alias gratis tis tis. Jadi kalau kamu ingin investasi, kamu nggak perlu ribet lagi mikirin berapa biaya transaksi belinya ya bro & sis. Sekarang kalau kamu mau beli, ya tinggal beli aja gampang.

Namun meskipun begitu, kamu tetap disarankan untuk melihat terlebih dahulu prospektus dari reksadana yang akan kamu beli. Karena sekali lagi, tidak semua penjual reksadana menggratiskan biaya pembelian produk reksadananya. Oke? cheers!

2. Biaya Penjualan Unit Penyertaan (Redemption Fee)

Tidak hanya membeli reksadana saja yang dikenakan biaya, menjualnya pun juga kamu akan dibebankan sejumlah biaya, yang kisaran harganya berada di rentang 0 – 5% dari total investasi reksadana yang kamu jual. Biaya penjualan atau yang sering disebut dengan redemption fee ini berlaku bagi kamu yang menjual reksadana sebelum mencapai jangka waktu tertentu, misal 6 atau 12 bulan sejak transaksi pembelian dilakukan.

Jadi, bagi kamu yang sudah melewati batas waktu tersebut lalu ingin menjual reksadana kamu, maka kamu tidak akan dibebankan biaya sama sekali. Nah, pertanyaannya, kenapa sih harus melewati batas waktu tertentu dulu? Kenapa tidak langsung digratiskan saja redemption fee-nya?

Artikel terkait:

Well, saya sebetulnya nggak tahu kenapa.  Cuman kalau menurut saya, barangkali kebijakan tersebut diambil demi mendorong investor-investor Indonesia untuk berinvestasi jangka panjang. Alias kalau sudah beli reksadana, minimal pegang dulu lah selama 6 atau 12 bulan, baru jual. Jangan seperti para pedagang sayur di pasar yang beli hari ini terus jual hari ini juga.

3. Biaya Pengalihan (Switching Fee)

Nah kalau ini adalah biaya yang dikenakan seandainya kamu mau beralih produk reksadana. Misal dari reksadana saham ke reksadana pasar uang, dari reksadana pendapatan tetap ke reksadana campuran, dan lain-lain. Hal ini berguna banget buat kalian yang tidak mau repot jual reksadana dulu, trus beli reksadana baru.

Namun kamu harus tahu bahwa tidak semua manajer investasi menyediakan opsi pengalihan (switching) produk reksadana. Setahu saya, sampai saat ini baru ada beberapa manajer investasi saja yang sudah menyediakan opsi switching. Dan oh ya, untuk biayanya itu dipatok di rentang 0 – 2% dari total nilai investasi reksadana yang ingin kamu alihkan.

4. Biaya Transfer

Biaya ini hanya berlaku bagi investor yang bertransaksi menggunakan rekening bank yang berbeda dengan bank kustodian reksadana, sehingga dibebankan biaya transfer. Contoh, kamu ingin membeli suatu produk reksadana dengan nilai investasi Rp. 100 ribu. Terus untuk menyelesaikan pembeliannya kamu diharuskan untuk mentransfer uang tersebut ke rekening BCA.

Nah, apabila di sini kamu hanya memiliki rekening BRI (ini sekadar contoh saja ya), maka otomatis kamu akan dikenakan biaya transfer dong, ya kan? Dari rekening BRI ke BCA, yang kalau tidak salah nilainya itu sebesar Rp. 6.500 alias 6,5% dari total investasi kamu yang jumlahnya Rp. 100 ribu. Ya walaupun nominalnya kecil, tetap saja tidak boleh dianggap enteng. Lagipula, kalau bisa gratis kenapa harus bayar?

Baca juga: Investasi P2P Lending di Ammana, Menguntungkan dan Bebas Riba!

Emang bisa gratis? Ya bisa lah. Caranya tinggal kamu pilih saja reksadana yang menggunakan bank kustodian yang sama dengan rekening bank yang kamu gunakan. Supaya bisa bebas biaya transfer dan tentunya bisa lebih hemat juga.  

(Nomor 5 – 11); Biaya Reksadana secara Tidak Langsung

Mungkin selama ini kamu nggak sadar, tetapi di dalam setiap harga unit penyertaan reksadana yang kamu bayarkan itu sebetulnya terdapat sejumlah biaya reksadana yang secara tidak langsung dibebankan kepada kamu. Biaya-biaya yang dimaksud ialah:

  • Biaya auditor dan notaris
  • Biaya percetakan dan distribusi bukti konfirmasi dan laporan bulanan reksadana
  • Biaya manajer investasi dan bank kustodian
  • Biaya percetakan dan distribusi pembaruan prospektus
  • Biaya transaksi dan registrasi efek
  • Biaya pengeluaran untuk keperluan mendesak demi kepentingan reksadana
  • Pajak

Berhubung  seluruh biaya di atas sudah langsung dimasukkan ke dalam perhitungan harga reksadana, otomatis kamu pun tidak akan mengetahui berapa jumlah biaya yang sebenarnya dibebankan kepada kamu. Namun, buat kamu yang ingin mengetahuinya, kamu tetap boleh kok melihat persentase dari masing-masing biaya reksadana tidak langsung tersebut pada laporan keuangan reksadana. Umumnya, adalah biaya jasa manajer investasi (management fee) dan bank kustodian (custodian fee)-lah yang biasanya memiliki persentase biaya yang paling besar.

As always, jika ada yang ingin kamu sampaikan atau apapun itu, silahkan langsung saja curahkan pada kolom komentar di bawah ini. Sekian dan I’m out.

Artikel ini merupakan bagian dari panduan investasi reksadana bagi pemula.

Author

I write, therefore I Am | Blog ini saya gunakan untuk menulis tentang opini, pengalaman, maupun tips2 yang berkaitan dengan topik finansial dan blogging. Buat kamu yang ingin bertanya (request artikel), silahkan langsung melalui halaman Ask ME . Sosial media: Twitter | Instagram Business inquiries: Kontak

7 Comments

  1. Saya tahu-nya cuma pembelian unit, soalnya sempat ikutan reksadana di komunitas.. Tapi gak saya lanjutin karena kesibukan lain. Sekarang lihat postingan mas, saya mulai tertarik kembali dengan catatan mulai menabung terlebih dahulu agar tidak kepikiran dengan biaya investasi..

  2. Game Review Reply

    Saya cuma tau namanya aja tapi gak tau Reksadana itu apa, apa sejenis saham atau apa?

  3. Kalau saya beli di bareksa gratis, tapi dikenakan biaya penjualan itu pun dengan syarat lama unit pernyertaan dibawah 1 tahun, kalau diatas 1 tahun gratis mas

    • Zai Z Reply

      Iya mas, emang gitu. Sprti yg saya bilang di tulisan di atas:

      “Biaya penjualan atau yang sering disebut dengan redemption fee ini berlaku bagi kamu yang menjual reksadana sebelum mencapai jangka waktu tertentu, misal 6 atau 12 bulan sejak transaksi pembelian dilakukan.

      Jadi, bagi kamu yang sudah melewati batas waktu tersebut lalu ingin menjual reksadana kamu, maka kamu tidak akan dibebankan biaya sama sekali.”

Write A Comment