11 Faktor Penyebab Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial yang sulit diatasi mengingat faktor penyebabnya ada banyak, beragam, dan bersifat struktural.

Maksudnya, kemiskinan dapat terjadi akibat faktor-faktor tertentu di luar kendali individu tersebut, seperti struktur sosial dan kesempatan yang tidak adil.

Di bawah ini adalah beberapa faktor penyebab kemiskinan yang umum terjadi berikut solusi mengatasinya.

1. Tingkat pendidikan yang rendah

Individu dengan tingkat pendidikan yang rendah cenderung mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang minim. Konsekuensinya mereka bakal sulit  bersaing untuk mendapatkan posisi yang layak di dunia kerja maupun dunia usaha.

Meski begitu, tidak semua orang dengan tingkat pendidikan rendah berakhir menjadi orang miskin. Sebagian justru berhasil menjadi kaya raya terlepas dari apakah mereka mendapatkan pendidikan formal yang memadai (minimal Sarjana) atau bahkan tidak sama sekali.

Oleh karena itu, barangkali arti yang lebih tepat untuk menggambarkan individu dengan tingkat pendidikan rendah adalah mereka yang kurang terekspos dengan ilmu pengetahuan (teori atau praktik) yang berguna serta minim pengalaman.

Untuk mendapatkan hal tersebut, seseorang  tidak harus menempuh jalur pendidikan formal meskipun sangat dianjurkan.

2. Bersikap malas dan tidak peduli

malas bekerja - faktor penyebab kemiskinan

Seseorang  yang tidak memiliki motivasi untuk bekerja/berusaha umumnya hidup bergantung pada orang lain dan miskin.

Sekalipun, awalnya orang tersebut lahir dari keluarga konglomerat, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas bersayap uang kertas, tetap saja akan jatuh miskin bila ia kehilangan gairah, semangat, tujuan, serta, tidak punya keinginan untuk berusaha.

Baca juga: 15 Pekerjaan yang Menghasilkan Uang Banyak di Indonesia, Minat?

3. Menderita penyakit tertentu

Selain kedua hal diatas, menderita jenis-jenis penyakit “mahal” seperti kanker, stroke, jantung, gagal ginjal, dan sebagainya juga dapat menguras duit seseorang dan membuatnya jatuh miskin.

Perhatikan saja bagaimana kehidupan orang-orang di sekitar, biasanya tidak susah kita mendapatkan contoh kasus seperti ini.

Bekerja keras siang dan malam hanya untuk menghasilkan uang, yang pada akhirnya juga habis mereka gunakan untuk mengembalikan kondisi kesehatan yang hilang akibat dari kesibukan itu.

Duit jelas penting, tapi kesehatan harus selalu menjadi yang paling utama.

4. Pola pikir yang salah

Pernahkah kamu mendengar kalimat “orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin” ? Jika iya, pepatah ini benar adanya karena perbedaan pola pikir antara si kaya dan si miskin.

Saat orang kaya memilih untuk berinvestasi, si miskin justru mengandalkan menabung di bank yang cuma memberikan imbal hasil rendah, bahkan menyebabkan kerugian.

Saat orang kaya menjunjung tinggi sifat ‘mandiri’, si miskin justru memilih untuk bermental ketergantungan (baca: menerima/minta-minta).

5. Lahir dari keluarga miskin

Salah satu nikmat yang sangat saya syukuri dalam hidup ini adalah terlahir sebagai anak dari keluarga yang berkecukupan. Tidak kaya dan tidak pula miskin.

Kenapa? karena dengan nikmat inilah, Alhamdulillah saya masih bisa berkesempatan memperoleh asupan nutrisi yang cukup bagi tubuh dan otak, mendapatkan akses pendidikan yang layak, dan berteman dengan orang-orang yang memiliki mental dan pemikiran yang mayoritasnya masih ‘normal’.

Sedangkan mereka yang lahir dari keluarga miskin, hal-hal seperti diatas rasanya sulit sekali untuk mereka dapatkan.

Akibatnya, ketika dewasa, kualitas hidup mereka pun tidak akan jauh berbeda dari kehidupan yang mereka jalani sejak kecil.

6. Konflik/Peperangan

peperangan

Adanya suatu konflik/peperangan yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat juga dapat menyebabkan seseorang jatuh miskin.

Lihatlah bagaimana keadaan saudara-saudara kita yang tinggal di negara yang tengah memiliki konflik. Baik itu konflik internal dalam negeri (cth: adanya krisis ekonomi, isu SARA) maupun yang menyangkut dengan negara lain (cth: perang).

Mayoritas hidup mereka miskin. Rumah dan hampir sebagian besar harta benda mereka hancur dan hilang hangus terbakar akibat konflik yang terjadi.

Satu-satunya alasan mengapa mereka masih bisa bertahan hidup sampai sekarang adalah karena bantuan dari berbagai pihak.

7. Bencana Alam

Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, dan lain-lain dapat menimbulkan kerusakan pada bangunan-bangunan infrastruktur dan sistem jaringan penting yang terletak di area sekitar terjadinya bencana.

Selain itu, bencana alam secara tidak langsung juga dapat mengakibatkan masyarakat yang terkena dampaknya tiba-tiba miskin. Apalagi jika bencana alam tersebut terjadi dalam skala yang besar (cth: tsunami di Aceh).

9. Keterbatasan sumber daya alam

Terbatasnya sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu daerah/wilayah juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan yang terjadi pada masyarakat setempat. Contohnya adalah mereka yang tinggal di benua afrika dengan kondisi tanah yang tandus dan kering.

Meski begitu, keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki suatu negara masih bisa diatasi jika negara tersebut memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.

Contohnya, Singapura; punya sumber daya alam yang sedikit, tetapi masih bisa kaya dan sukses karena sumber daya manusianya yang berkualitas.

10. Korupsi

Korupsi yang dilakukan oleh para oknum pejabat pemerintah – mulai dari tingkat yang paling rendah hingga pusat – juga menjadi salah satu penyebab tingginya tingkat kemiskinan di Indonesia.

Pasalnya, uang yang dikorupsi adalah uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Biasanya melalui pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis (jalan, pembangkit listrik, jalur kereta, bendungan, dll), impor bahan pokok (beras, jagung, daging sapi, dll), pemberian bibit tanaman atau ternak kepada para petani, hingga untuk keperluan menunjang program-program baru pemerintah seperti pada kasus pengadaan KTP elektronik.

Dengan adanya tindak pidana korupsi atau ‘tipikor’, beberapa proyek di atas berpotensi menjadi mangkrak dan/atau memberikan hasil yang tidak bahkan jauh dari ekspektasi. Alhasil, upaya pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya pun semakin terhambat.

11. Pengangguran

pengangguran - faktor penyebab kemiskinan

Tingginya jumlah angkatan kerja per tahun yang tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai mengakibatkan sebagian besar dari angkatan kerja ini terpaksa harus menjadi pengangguran.

Semakin banyak yang menganggur, maka akan semakin banyak pula orang yang miskin dan menggantungkan hidup pada orang lain.

12. Kebijakan pemerintah

Sebagai pihak yang berwenang dalam membuat kebijakan, pemerintah tentu memiliki pengaruh yang besar dalam mengatasi persoalan kemiskinan di suatu negara.

Di Indonesia sendiri, berbagai kebijakan yang diambil pemerintah saat ini seperti pembangunan infrastruktur yang masif di berbagai daerah, program dana desa, hingga kebijakan penyederhanaan aturan (deregulasi) dalam mendirikan bisnis, ternyata sejauh ini cukup efektif dalam mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

Data terakhir dari BPS bahkan menunjukkan angka kemiskinan di Indonesia telah berhasil menyentuh angka single digit (9,82%) per Maret 2018.

11 Faktor Penyebab Kemiskinan 1
Foto: Dok CNBC

Karena besarnya wewenang yang dimiliki oleh pemerintah, maka tak jarang pula ada kejadian dimana beberapa kebijakan yang diambil justru hanya memperparah masalah kemiskinan di masyarakat.

Contohnya adalah seperti yang terjadi di Korea Utara (korut). Kebijakan pemerintah Korea Utara yang mengurung diri dari dunia luar mengakibatkan sebagian besar rakyatnya miskin, penyakitan, dan seringkali menderita kelaparan.

Kesimpulan

Kemiskinan merupakan masalah yang kompleks, terjadi dimana-mana, dan dapat dipicu oleh berbagai macam hal. Untuk mengatasinya, dibutuhkan peran kerjasama berbagai pihak, mulai dari individu, masyarakat, pemerintah, hingga organisasi tingkat dunia.

Artikel selanjutnya:

Zai Alam

A lifelong learner, blogger and part-time investor. I love sharing about personal finance and cuan-related tips. Connect with me on Twitter. (Disclaimer: not a financial advisor)

Tinggalkan komentar