Belakangan ini, minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi semakin tinggi. Terutama di kalangan anak muda milenial dan generasi Z seperti saya.

Daripada menabung di bank dengan tingkat bunga tabungan rata-rata kurang dari 1% per tahun, jauh lebih baik bila uang yang kita dapatkan dari kerja keras banting tulang tersebut disalurkan ke berbagai instrumen investasi.

Misalnya, di instrumen reksadana pasar uang yang setidaknya mampu memberikan imbal hasil sekitar 5-7% per tahun dan dengan risiko yang relatif rendah.

Kalau kamu ingin mendapat return yang lebih tinggi lagi, kamu juga bisa berinvestasi di instrumen yang lebih berisiko, seperti di reksadana saham, obligasi, peer to peer (P2P) lending, atau bahkan di instrumen saham dengan potensi imbal hasil tak terbatas.


Berinvestasi memang menguntungkan.

Tetapi kalau kita berinvestasi hanya karena ikut-ikutan trend atau ikut-ikutan dengan orang lain, maka ini bisa bahaya dan sangat tidak disarankan.

Kenapa? karena berinvestasi juga ada persiapannya sendiri.

Apa aja? Simak di bawah ini:

1. Bereskan utang

Berinvestasi saat kamu masih memiliki utang adalah hal yang kurang bijak. Apalagi jika nominal utangmu cukup besar.

Bagi kamu yang masih memiliki utang kartu kredit, utang kendaraan (mobil atau motor), utang KPR, utang smartphone, dan lain-lain, sebaiknya prioritaskan dana yang ada untuk melunasi utang tersebut alih-alih dipakai berinvestasi.

Utang yang ditunda pembayarannya atau dibayar tidak tepat akan menimbulkan biaya denda yang lama kelamaan nominalnya akan semakin besar karena efek compounding.

Berinvestasi saat kamu masih memiliki utang boleh saja asalkan nominal utangnya tidak begitu besar dan kamu juga rutin membayar pokok utang dan bunganya setiap bulan.

Dengan begitu, semisal masih ada dana yang tersisa setelah kamu membayar tagihan utang dan biaya keperluan hidup lainnya selama sebulan, kamu bisa menggunakan dana tersebut untuk berinvestasi di berbagai instrumen investasi yang kamu pilih.

Dalam melunasi utang, ada dua cara populer yang disarankan para ahli.

Pertama, debt snowball, yaitu mengurutkan semua utang yang ada berdasarkan nominal lalu melunasinya dari utang dengan nominal terkecil terlebih dulu sampai yang paling besar.

Kedua, debt avalanche, yaitu mengurutkan semua utang yang ada berdasarkan tingkat bunga, lalu melunasinya dari utang dengan tingkat bunga paling tinggi ke utang dengan tingkat bunga  terendah.

2. Miliki asuransi

Hidup tidak bisa diprediksi.

Berbagai musibah seperti jatuh sakit, mengalami kecelakaan, menjadi korban bencana alam, dan lain-lain bisa saja menimpa diri kita suatu saat nanti.

Jika ini terjadi, biasanya kita akan memerlukan dana yang cukup besar untuk membiayai berbagai keperluan pemulihan seperti untuk membeli obat, membayar jasa dokter, rawat inap di rumah sakit, dan sebagainya.

Jika kita berinvestasi tanpa memiliki perlindungan asuransi yang memadai atau bahkan tidak memiliki asuransi sama sekali, maka saat musibah menimpa kita, besar kemungkinan yang akan terjadi adalah kita bakal “dipaksa” untuk mencairkan semua dana investasi kita untuk membiayai keperluan pemulihan tersebut.

Alhasil, tujuan keuangan kita pun menjadi tertunda.

Asuransi merupakan salah satu hal yang penting dimiliki sebelum kamu mulai berinvestasi. Beberapa jenis asuransi yang saya sarankan untuk dimiliki antara lain:

  • Asuransi kesehatan, minimal BPJS Kesehatan
  • Asuransi jiwa, ini untuk memberikan manfaat pada anggota keluarga yang ditinggalkan
  • Asuransi kecelakaan
  • Asuransi rumah tinggal
  • Asuransi perjalanan (opsional)
  • Asuransi kendaraan (opsional)

Sebelum memilih asuransi, sebaiknya lakukan konsultasi dengan perencana keuangan profesional agar kamu mendapatkan saran terbaik sesuai dengan kondisi finansial kamu.

Bagi kamu yang sedang mencari produk asuransi, kamu bisa mendaftar secara online di KlikAsuransiku.com, portal asuransi terpercaya milik PT. Asuransi Simas Jiwa yang telah terdaftar dan diawasi OJK.

3. Siapkan dana darurat

Dana darurat adalah dana idle (nganggur) yang digunakan khusus untuk keperluan darurat seperti ketika kehilangan pekerjaan (di-PHK), mengalami kecelakaan atau keluarga sakit sehingga membutuhkan dana untuk dipakai berobat, mobil rusak sehingga membutuhkan perbaikan, dan berbagai keperluan lain yang sifatnya mendesak.

Tidak ada rumus pasti mengenai berapa jumlah dana darurat yang harus kamu siapkan, namun pada umumnya, minimal dana darurat yang harus dimiliki seseorang adalah 3 – 6x jumlah pengeluaran setiap bulan.

Jadi, kalau pengeluaran bulanan kamu adalah Rp5.000.000, maka minimal dana darurat yang harus kamu miliki adalah Rp15 juta (3x pengeluaran bulanan) atau Rp30 juta (6x pengeluaran bulanan).

Kalau mau lebih aman lagi, kamu bisa mengumpulkan dana darurat sampai 12x pengeluaran bulanan.

Sama seperti asuransi, dana darurat juga penting dimiliki agar kamu tidak mencairkan dana investasi (misalnya, menjual saham) terlalu awal ketika membutuhkan dana cepat untuk berbagai keperluan mendesak.

Dua hal yang perlu diingat saat kamu hendak menyiapkan dana darurat adalah:

  • Simpan dana darurat pada instrumen yang mudah dicairkan, seperti tabungan bank dan produk reksadana pasar uang.
  • Jangan menyimpan terlalu banyak dana darurat, misalnya sampai lebih dari 12x pengeluaran bulanan, karena dana tersebut akan jauh lebih menguntungkan bila ditaruh di instrumen investasi dengan potensi return tinggi. Misalnya di P2P Lending Asetku.

4. Tentukan tujuan investasi kamu

Setiap orang punya tujuan investasi berbeda-beda. Ada orang yang berinvestasi untuk menyiapkan dana pensiun, ada yang berinvestasi untuk menyiapkan dana pernikahan, dana membeli rumah, dana untuk biaya umroh, dan lain sebagainya.

Mengetahui apa tujuan investasi kamu sebelum berinvestasi adalah hal yang penting dilakukan karena beda tujuan investasi beda pula strategi investasinya.

Contoh, kalau tujuan investasi kamu adalah menyiapkan dana pensiun untuk dipakai 25-30 tahun lagi, berinvestasi di saham, reksadana saham, reksadana indeks, dan obligasi pemerintah jangka panjang dapat menjadi saran yang tepat.

Sebaliknya, bila tujuan investasi kamu adalah menyiapkan dana pernikahan untuk 3 tahun lagi, berinvestasi di instrumen saham atau reksadana saham bisa jadi merupakan saran yang buruk.

Untuk tujuan investasi jangka pendek, dana kamu akan jauh lebih aman jika disalurkan pada instrumen investasi rendah risiko seperti reksadana pasar uang, obligasi/sukuk, atau produk deposito.

5. Pelajari ilmu investasi

Setelah mengetahui apa tujuan investasi kamu, langkah berikut yang perlu kamu lakukan adalah mempelajari ilmu investasi.

Terutama ilmu mengenai berbagai instrumen investasi yang tersedia, seperti:

Sebelum mulai berinvestasi saham, misalnya, kamu disarankan untuk tahu apa saja yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham dan mengetahui bagaimana cara membaca laporan keuangan perusahaan.

Selain itu, mengetahui tentang apa perbedaan antara pasar uang dan pasar modal juga penting mengingat keduanya adalah induk dari berbagai instrumen investasi yang saat ini kita kenal.

Kamu dapat mempelajari ilmu investasi dari berbagai sumber, seperti dengan membaca buku, mengikuti seminar investasi, menonton video youtube, membaca artikel blog Zaipad atau blog keuangan lainnya, maupun dengan bergabung di komunitas-komunitas investasi yang ada.

Contohnya, bergabung di salah satu komunitas saham Indonesia.

Buat kamu yang senang membaca buku, berikut adalah beberapa buku investasi (berbahasa inggris) yang sangat saya rekomendasikan untuk kamu baca, antara lain:

Kalau kamu tidak suka baca buku, tetapi ingin belajar tentang ekonomi, investasi, dan segala hal yang berhubungan dengan keduanya, saya sangat menyarankan kamu menonton dua video ini.  

Pertama, How The Economic Machine Works in 30 Minutes oleh Ray Dalio. Di video ini, kamu bakal belajar banyak tentang cara kerja dan berbagai prinsip dasar ekonomi.

Kenapa krisis ekonomi terjadi pada suatu negara? Apa penyebabnya serta solusi yang tepat untuk mengatasi hal ini, semuanya dibahas oleh Ray Dalio lewat video ini dengan penjelasan yang mudah dipahami.

Kedua, Everything You Need to Know About Finance and Investing in Under an Hour oleh William Ackman. Di video ini, kamu akan belajar tentang cara kerja sebuah bisnis, bagaimana cara membuatnya, bagaimana cara mendapatkan pendanaan, mengapa bisa sebuah perusahaan lebih bernilai dibandingkan perusahaan lain, dan seterusnya.

Mengutip kata Warren Buffet, “risk comes from not knowing what you’re doing” yang berarti risiko datang dari tidak mengetahui apa yang kamu lakukan.

Jadi, pastikan kamu telah memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum mulai berinvestasi.

Risk comes from not knowing what you’re doing

Warren Buffet

Kesimpulan

Apakah saya harus melakukan kelima hal ini sebelum mulai berinvestasi? Tentu tidak.

Kamu bisa melakukan sebagian atau bahkan ke-5 hal di atas sekaligus berinvestasi di saat yang sama. Untuk mendapatkan saran terbaik, sebaiknya lakukan konsultasi dengan perencana keuangan profesional, jangan saya, karena saya bukan salah satu dari mereka.

Author

Carpe diem

Write A Comment

Dapatkan Ilmu dan Tips Cuan dari Investasi Eksklusif setiap hari Selasa! 
Daftar dan bergabunglah dengan 1200+ subscribers lainnya
Subscribe
No spam. Unsubscribe kapan saja.
close-link