Keluarga dan Teman.

Yup, dua kelompok diatas. Tidak perlu jauh-jauh (lagi) observasi dimana letak penyebabnya.

Pasalnya, setelah faktor dari dalam diri sendiri (baca; boros, tidak punya prioritas, pengelolaan yang buruk), keluarga dan teman kerap kali menjadi alasan yang kuat bagi seseorang untuk jor-joran dalam hal pengeluaran. Sehingga arus dana keluar (expenditure) pun tanpa disadari menjadi lebih besar daripada seharusnya.

Dan ini biasanya disebabkan oleh sejumlah paradigma dan alasan dibawah ini:

1. Sama Keluarga Aja Kok Pelit

Pernah tidak kamu mendengar pernyataan dari anggota keluargamu yang seperti itu? Terutama mungkin dari saudara(i) kandungmu? Jika iya, maka berhati-hatilah. Sebab ada dua kemungkinan kenapa kamu sampai dibilang seperti itu.

Yang pertama jelas karena kamu orangnya memang pelit.

Yang kedua adalah karena si doi (baca: anggota keluargamu) hanya sedang memperdayai kamu saja. Atau istilahnya tengah membujuk kamu dengan cara memanas-manasi.

Nah, untuk solusi dari permasaalahan pertama adalah dengan mempersering introspeksi diri (baca: harta gak dibawa mati, bro). Adapun untuk alasan yang kedua solusinya adalah dengan cara bersikap tak acuh atau tak peduli terhadap perkataannya si doi. Didiamin aja. Simple.

Baca juga: 6 Cara Jitu Menjadi Diri Sendiri dan Mengapa Ini Penting?

Jangan ngebantah! Karena pasti bakalan dibantah balik dan ujung2nya mereka yang menang. Jadi lebih baik diam saja. Terserah si doi mau bilang apa.

2. Sama Orangtua Dosa lho Kalau Pelit

Pernyataan Ini mungkin agak sedikit kontroversi. Tapi tidak apa-apa lah. Sebab fakta membuktikan bahwa tidak semua orangtua di dunia ini memiliki sifat yang baik. Ada lho orangtua yang ketika melihat anaknya kaya, berduit, dan sukses, justru memanfaatkannya untuk keperluan pribadi.

Jadi, hati-hati aja. Jangan sampai karena alasan ‘takut kualat’, kamu malah jadi menggali lubang kuburanmu sendiri di masa depan. Ngasih uang ke orangtua itu wajib, tapi kalau keseringan juga bisa-bisa kan kamunya juga yang tekor.

Saya berdoa semoga kamu tidak salah paham.

3. Hutang dulu ya

Kalau sebelumnya itu dikarenakan oleh pengaruh dari keluarga, maka untuk yang satu ini lebih cenderung bersumber dari lingkungan pergaulan kita. Alias berasal dari teman.

Dan ini juga paling banyak terjadi ketika kita sedang menjalani bisnis. Terutama bisnis pulsa. Karena menganggap seseorang sebagai teman, kita acapkali akan merasa tidak enak bila menolak saat teman kita hendak berhutang. Apalagi kalau mereka ngasih alasan-alasan yang bikin sedih disertai janji akan membayar hutangnya tepat waktu.

Sehingga kadang dengan hati yang harap-harap cemas kita perbolehkan saja mereka untuk berhutang. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, si peminjam tersebut justru mulai menunjukkan kelakar tipe orang yang ingin menghindari membayar hutang.

Baca Juga: Usaha Sering Gagal? Barangkali Kamu Suka Ngelanggar Prinsip yang Satu Ini

Mendekati waktu jatuh tempo, mulai deh yang bersangkutan jarang kelihatan di hadapan kita, ada juga yang bertindak seolah-olah lupa dengan hutangnya mereka ke kita ketika coba disinggung soal piutang yang bersangkutan (baca: pura-pura lupa). Bahkan yang paling parah itu dan pernah kejadian adalah ketika yang bersangkutan tiba-tiba menghilang entah kemana.

Lenyap di telan bumi. Poom.

Kalau sudah begitu, resikonya pasti kita bakalan menggunakan uang pribadi untuk menyehatkan kembali arus dana (cashflow) pada bisnis yang sedang kita jalani.

Kesimpulan

Jadi, jika kita ingin kesehatan finansial pribadi kita terus berada dalam kondisi yang baik, pastikanlah kita menjauhi sejumlah perangkap yang tersebar di lingkaran keluarga dan teman kita sendiri.

Sebenarnya masih banyak sekali contoh jebakannya yang ingin saya sampaikan, but I think you already got the point.

Jadi, bijaklah dengan uangmu.

Catatan: Jika kamu merasa artikel ini bermanfaat dan cukup membantu kamu, maka please setidaknya bantu saya untuk membagikan manfaatnya ke lebih banyak orang lagi. Lagipula, caranya mudah kok’ – cukup dengan mengklik satu atau lebih tombol share sosial media (twitter, facebook, google plus) yang terdapat pada bagian bawah artikel ini. Kemudian ikuti petunjuk berikutnya. Cheers !!

Author

I write, therefore I Am | Blog ini saya gunakan untuk menulis tentang opini, pengalaman, maupun tips2 yang berkaitan dengan topik finansial dan blogging. Buat kamu yang ingin bertanya (request artikel), silahkan langsung melalui halaman Ask ME . Sosial media: Twitter | Instagram Business inquiries: Kontak

2 Comments

  1. Memang sekarang banyak kaum muda Indonesia masih jadi generasi kejepit. Sandwich generation. Ortu masih harus diurusin (karena ga punya asuransi dan investasi) sementara masih harus ngebiayain keluarga.

    Kalo temen mah doamat. 😛

Write A Comment