Beberapa saat yang lalu saya baru saja melihat daftar topik-topik yang lagi trending di Twitter. Setelah itu saya click tagar #selamatkankretek untuk melihat sejumlah cuitan netizen yang meramaikan hashtag tersebut pada hari ini.

Eh, ternyata ketika saya ngeklik salah satu akun twitter di timeline tagar tersebut, untuk melihat profil dari si yang memberikan cuitan, mata saya langsung terfokus seketika pada sejumlah video singkat dan gambar p**no yang di posting.

Saya sih gak langsung menutup akun tersebut. Trus bilang Astagfirullahaladzim, banting handphone, dan sebagainya.

No … No… Saya bukan tipe orang suci seperti itu. Akan tetapi saya masih …. you know lah …

Ironis sekali ketika saya mengetahui konten esek-esek seperti itu juga ada dan beredar dengan leluasa di twitter. Dan jujur, selama bertahun aktif-vakum main twitter, saya baru tadi tahu tentang hal tersebut.

Kalau kemarin pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sempat memblokir Whatsapp gegara mudahnya akses pengguna terhadap konten gif p**no yang ada di aplikasi tersebut. Maka seharusnya kali ini Kominfo juga melakukan tindak yang sama (memblokir sementara) akses menggunakan sosial media besutan Jack Dorsey ini di Indonesia.

Pasalnya, konten esek-esek yang beredar itu tidak terkena sensor. Alias mudah saja untuk diakses siapapun. Sementara  solusi saat ini disediakan Twitter itu menurut hemat saya belum bisa benar-benar membuat konten-konten negatif hilang dari peredaran di linimasa sosial media dengan logo burung berwarna biru itu. Atau paling tidak bisa berkuranglah dengan drastis.

Solusi yang tersedia baru report doang. Dan ini saya kurang efektif. Bagus kalau ada orang yang mau report, kalau gak ada gimana? Belum lagi ditambah dengan respon tindak lanjut dari twitter yang biasanya lumayan lama.

Untuk itu, melalui postingan ini saya berharap agar kalian para pengguna twitter, bila kebetulan melihat konten yang tidak senonoh, untuk segera melakukan report dan kalau perlu mention akun penyebar konten tersebut sekaligus CC ke akun resmi @Kemkominfo.

Saya sendiri sudah melakukan bagian saya, sekarang adalah giliran kamu. Demi masa depan anak-anak Indonesia yang bersih dari pengaruh konten negatif.

Author

I write, therefore I Am | Blog ini saya gunakan untuk menulis tentang opini, pengalaman, maupun tips2 yang berkaitan dengan topik finansial dan blogging. Buat kamu yang ingin bertanya (request artikel), silahkan langsung melalui halaman Ask ME . Sosial media: Twitter | Instagram Business inquiries: Kontak

2 Comments

  1. Walah. Banyak bener mas akun p***o di twitter mah. Makanya blokir-blokir platform itu bukan solusi. Gimana pemerintah bikin sex education sesuai batasan umur pendidikan akan lebih baik untuk mencegah akses ke konten-konten seperti itu di internet. Karena kalau masih dianggap tabu dan gak boleh diomongin jadi banyak yang penasaran, nyari sendiri dan hancurlah dunia persilatan.

    • Zai Z Reply

      Menarik pendapatnya, bang. Saya setuju bila pemerintah, melalui kementerian pendidikan, mulai berani buka-bukan memberikan sex education kepada anak2 sesuai dengan rentang umur mereka. Bahkan kalau perlu masuk juga di kurikulum. Hanya saja di Indo agamanya itu sangat kuat. Sehingga u know lah .. pasti banyak yang kontra. Alhasil, orang-orang kalau mau kasih sex education jadi pada gerilya. Nanti terbukanya mungkin pas bangku kuliah, itupun kalau ambil kesehatan.

Write A Comment