Beberapa hari yang lalu mbak Carra, pemilik blog Carolinaratri.com, menulis artikel tentang pengalamannya saat bertemu dengan orang yang bisa dibilang memiliki mental gratisan. Dalam artikel tersebut, mbak Carra menceritakan bagaimana ia berhasil dikibulin oleh seseorang yang ingin bertemu dengannya di sebuah mall.

Sebelum bertemu, orang ini memang sudah menelpon terlebih dahulu dengan menyelipkan satu permintaan. Yakni agar mbak carra ikut menyertakan salah satu buku karyanya yang berjudul: “Blogging Have Fun and Get The Money“. Mungkin karena di pikiran mbak Carra, orang yang nelpon ada minat mau beli, maka dibawalah buku tersebut.

Singkat cerita, orang ini nampaknya cuman berniat meminta buku secara gratis. Ia mendapatkan buku tersebut tanpa memberikan imbalan uang sama sekali kepada si penulisnya (carolina ratri). Alias punya mental gratisan.

Di artikel tersebut; Nggak Bisa Beli, Begini Cara Memberi Support Pada Teman Penulis Buku Tanpa Meminta Buku Gratis, saya bisa merasakan bagaimana kesalnya perasaan mbak Carra kepada orang tersebut. Terutama karena cara orang tersebut dalam mendapatkan bukunya yang terkesan ngibulin. Kalau memang mau bukunya secara gratis, kenapa tidak dari telpon bilangnya kayak gitu? Nanti saat bukunya udah di tangan, baru nampak kalau dia ternyata hanya ingin minta gratisan. Lagian kan gak enak juga mau bilang “Eh, kamu bayar dong, jangan mau gratisan aja”.

Mental Gratisan

mental gratisan

Saya terus terang tidak tahu apakah cerita yang ditulis oleh mbak Carra itu benar terjadi atau tidak. Namun yang pasti penekanan masalahnya disini terletak pada masih adanya mental gratisan yang tumbuh di antara masyarakat Indonesia. Dan paling banyak mental gratisan ini tumbuh dan bersemayam di tubuh orang-orang yang sering kita sebut teman atau kerabat.

Lantas apa sih sebenarnya mental gratisan itu? Nah, menurut hemat saya, mental gratisan itu adalah suatu keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang yang hanya ingin menerima sesuatu secara gratis baik itu berupa produk maupun jasa. Jenis orang seperti ini bisa juga disebut sebagai orang yang tidak menghargai sebuah karya. Tidak menghargai usaha, waktu, dan modal yang dikeluarkan oleh seseorang dalam membuat karyanya.

Makanya kenapa para pembuat karya merasa jengkel ketika harus berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Saya saja saat mendengar cerita dari mbak Carra jadi ikut-ikutan merasa jengkel. Bagaimana tidak, memangnya mereka (orang dengan mental gratisan) pikir menulis sebuah buku itu merupakan perkara yang mudah. Mbok ya saya saja yang masih dalam tahap menulis buku pertama saya saja sudah merasa cukup kewalahan. Padahal di saat artikel ini dibuat, saya baru saja selesai menulis sekitar 9000 kata. Belum sampai setengahnya lho tapi sudah kerap kali  muncul pikiran-pikiran negatif dan perasaan yang mendorong untuk segera menyerah.

Baca juga: 4 Kesalahan Blogger Pemula yang Wajib Banget Kamu Hindari

Jadi, buat siapa saja yang merasa saat ini masih memiliki mental gratisan, please deh, berhenti. Suatu karya sebelum bisa sampai di depan mata kita itu telah melewati proses yang panjang dan seringkali rumit. Ada usaha, tenaga, waktu, modal, kerja keras, dan pengorbanan seseorang supaya karya itu bisa hadir dan dinikmati banyak orang. Bisa digunakan atau dinikmati oleh kamu.

Saya tahu meski sudah banyak orang yang menyampaikan hal serupa dengan saya bahkan ada yang cara sosialisasinya sampai mengadakan kegiatan-kegiatan yang seru dan ramai, tetap saja akan selalu ada orang-orang dengan mental gratisan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Sehingga pertanyaannya adalah kenapa sih bisa seperti itu?

Kenapa Selalu Saja Ada Orang dengan Mental Gratisan?

kenapa selalu saja ada orang dengan mental gratisan?

Perbedaan Prioritas

Terlebih dahulu kita harus pahami bahwa setiap orang pasti punya prioritas masing-masing. Dalam hal membeli sebuah produk atau karya dari orang lain, seseorang sebenarnya punya kemampuan finansial yang cukup untuk membayar harga produk yang dipatok. Namun, bisa saja membeli produk tersebut bukanlah hal yang menjadi prioritas bagi mereka. Sehingga ketika mereka hendak mau membeli produk tersebut, uang mereka keburu habis dan timbullah kemudian sifat manusia yang ingin sesuatu secara free atau yang dikenal dengan istilah mental gratisan.

Skenario diatas merupakan salah satu contoh kenapa mental gratisan akan selalu ada. Dan saya pikir ini termasuk sifat dasar manusia. Siapapun itu. Sehingga mereka yang di dunia nyata terlihat sama sekali tidak memiliki mental gratisan, jika kamu bisa membuka dan mendengar isi hati mereka, pastilah akan kamu temukan bahwa mereka juga punya. Cuman mereka pandai dalam menyembunyikan perasaan tersebut. Ayolah, jangan naif! siapa sih yang tidak mau mendapatkan sesuatu secara gratis? Saya pun jelas….. Ingin.

Pengaruh Kemampuan Finansial

Selain itu, ada juga sebagian kelompok orang yang memiliki mental gratisan ini berasal dari kalangan yang benar-benar tidak mampu. Jangankan mau beli karya orang lain, beli makanan sehari-hari saja susahnya minta ampun. Nah, jadi janganlah sesuka hati berkesimpulan semua orang itu sama. Artinya, di saat kamu memiliki sebuah karya; anggaplah itu sebuah buku dan kemudian ada beberapa orang yang menginginkan bukumu tersebut tanpa membayar, lantas kamu langsung beranggapan bahwa mereka semua memiliki mental gratisan. Padahal mungkin ada satu orang disana yang hidupnya dari dulu memang sudah susah. Mereka ingin gratis bukan karena punya uang cukup tetapi tidak mau bayar, melainkan karena mereka memang tidak bisa bayar.

Jadi, kalau besok-besok kamu sukses memiliki sebuah karya, kamu mesti lebih berhati-hati lagi di saat menghadapi orang yang menginginkan karyamu secara gratis. Janganlah langsung sesuka hati menilai mereka. Karena sungguh kamu tidak pernah tahu alasan dibalik kenapa mereka bertindak seperti itu. Bisa saja karena mereka memang memiliki mental gratisan atau mungkin karena mereka sejatinya tidak mampu bayar.

Baca juga: Faktor Eksternal yang Bikin Keuangan Pribadi Menjerit

Bahaya dari Memiliki Mental Gratisan

bahaya dari memiliki mental gratisan

Sebelumnya kita sudah membahas banyak tentang topik ini, namun kita belum melihat apa bahaya yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan ini pada diri seseorang bahkan pada hal yang lebih besar lagi. Untuk itu, simaklah beberapa bahaya memiliki mental ‘tidak mau bayar’ berikut ini.

Menciptakan budaya yang buruk

Sebuah perilaku yang dilakukan seseorang secara terus menerus akan membentuk sebuah kebiasaan. Dan ketika sebuah kebiasaan menular dan diikuti oleh semua orang, maka itulah yang disebut dengan budaya. Artinya apabila kebiasaan mental gratisan seseorang terus menerus dipupuk dan dibiarkan begitu saja, maka ia akan tumbuh dengan subur. Sehingga akan menjadi sebuah keniscayaan bagi kebiasaan tersebut untuk berevolusi menjadi sebuah budaya yang ada di masyarakat. Jika …. dan hanya jika ini terjadi, maka ucapkanlah selamat tinggal kepada industri kreatif yang ada Indonesia.

Walaupun statistik peluang hal tersebut berubah menjadi kenyataan sangatlah kecil, tetap saja kemungkinannya ada.

Memberikan Kamu Image yang Jelek

bahaya memiliki mental gratisan

Apakah kamu ingin orang-orang dibelakang kamu berbicara tentang karaktermu yang suka gratisan. Apa kamu tidak malu punya image se-jelek itu di kalangan teman-temanmu? Silahkan jawab sendiri.

Karma

Pernah menonton sebuah acara yang cukup hits dengan judul karma yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Meski saya sangat menyayangkan kualitas dari acara tersebut, pesan yang ingin coba mereka sampaikan sangatlah jelas. Yaitu hukum karma senantiasa berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita kaitkan dengan topik bahasan artikel kali ini, maka kamu yang sekarang masih memiliki mental gratisan sebaiknya bersiap-siaplah. Sebab bisa jadi besok ketika kamu ingin meluncurkan sebuah karya, orang-orang pada tidak mau beli dan maunya gratis. Nah lho? Gimana? Pusing juga kan saat mengetahui setiap usaha kerja keras kamu nampaknya tidak dihargai oleh orang lain.

Hidup pada tingkat minimum

Salah satu akibat dari memelihara mental gratisan adalah terbentuknya kebiasaan hidup pada standar yang minimal. Logikanya adalah ketika seseorang sudah terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma, maka buat apa lagi berusaha keras? Kalau seseorang bisa mendapatkan produk seharga 5 juta yang ia inginkan secara gratis, maka buat apa ia bersusah payah meningkatkan pendapatannya yang hanya berkisar 3 juta per bulan? Sehingga, tidak ada lagi alasan yang bisa memotivasinya untuk bekerja lebih keras. Alhasil, hidupnya menjadi begitu-begitu saja.

Kesimpulan

Mental gratisan adalah suatu mental yang buruk untuk dipelihara. Mental ini tidak hanya akan merusak diri sendiri, melainkan juga berpotensi membahayakan masyarakat secara keseluruhan. Terutama bagi mereka yang mendapatkan uang dari hasil karya.

Jadi, sebaiknya hindarilah bermental gratisan. Jika kamu menginginkan sesuatu tetapi harganya terlampau mahal, maka lebih bekerja keraslah kamu untuk menambah penghasilan supaya bisa membayar apa yang kamu inginkan tadi. Jangan cuman maunya yang gratis-gratis saja yaa… People’s hard work also need to be appreciated, fellas !!!

Author

Freelance Writer, Blogger, and Finance enthusiast. Blog ini saya buat untuk berbagi tips finansial, investasi, dan berbagai cara menghasilkan uang dari internet. Hubungi halo@zaipad.com untuk perihal pertanyaan dan kerjasama.

4 Comments

  1. Makasih ya, tanggapan artikelnya 😀
    Memang yang penting adalah mengubah dari diri kita sendiri dulu. Pikirkan saja, kalau orang lain melakukannya ke kita, kira-kira kita mau terima apa enggak? Kalau enggak, ya berarti jangan lakukan ke orang lain.
    Cukup simpel sebenernya, cuma ya mungkin agak susah dilakukan buat sebagian orang. Hihihi.

    Makasih yaaa! :-*

    • Zai Z Reply

      Wah, makasih banyak sudah luangkan waktu berkomentar di blog ini meski saya tahu mbak Carra itu orangnya cukup sibuk. Secara blognya udah sukses sentosa. Job dimana-mana. Hehe

      Iya, memang mbak, prinsipnya itu sederhana, tapi ya prakteknya itu yang … susah. Sementara di dunia nyata yang paling penting itu praktek bukan teori. Hiks

      Iya, Sama-sama mbak, sukses selalu

  2. Manteb artikelnya… Memunculkan karakter asli si penulis. Cuma terbawa emosi saja. Btw soal mental gratisan. Indonesia kan memang surganya film gratis, voucher gratis dan yg paling miris software gratis untuk cari duit. Contoh desainer n writer. Windows gratis plus photoshop gratis 😅 itu gak gratis kali tp nyolong hak cipta.

    • Zai Reply

      “Indonesia kan memang surganya ….. software gratis untuk cari duit.”

      Setuju Om Hax. hehehe.

Write A Comment

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!

Mau Informasi GRATIS tentang Tips Finansial dan How to Make Money Online dari Zaipad?

*Bonus E-Book 53 Cara Mendapatkan Uang dari Internet khusus untuk kamu yang mendaftar hari ini. 

Pendaftaran Berhasil! Silakan cek Inbox kamu untuk Konfirmasi Email.