Passion atau hasrat adalah suatu istilah yang seringkali didengungkan oleh kalangan milennial saat ini seperti pada contoh percakapan dibawah ini.

A: Saya bingung nih mau ngambil jurusan apa nanti saat kuliah. Ada saran gak, bro?
B: Udah, ikuti passionmu aja.
A: Iya sih. Tapi, apa ya?
B: ….

A: Duh, Bro. Akhir-akhir ini saya jadi bete banget nih kerja. Itu-itu aja. Gak ada perkembangan sama sekali. Gimana ya?
B: Berhenti kerja aja, trus ikuti passion kamu.
A: Tapi saya bingung apa yaa passion saya?
B: Ya, itu PR buat kamu. Temukan passionmu.

Meski nasihat “temukan passionmu” terdengar masuk akal, namun pada kenyataannya bisa sangat sulit untuk di implementasikan.

Alasannya adalah karena seseorang tidak benar-benar tahu apa passion atau hasrat mereka.

Tips: Ikuti tantangan menulis minimal 1 artikel per hari selama satu tahun.

Ini akibat dari doktrin find your passion yang menyarankan seseorang untuk menemukan satu hal yang bisa membuat hatinya senang saat melakukannya hingga lupa akan waktu. Lalu fokuslah pada satu hal itu.

Namun, kebenarannya jauh dari hal itu.

Manusia Cenderung Menyukai Banyak Hal

Saat saya kecil saya sangat suka bermain video game. Bahkan saya mampu untuk tidak tidur selama 2 malam berturut-turut hanya untuk bermain game.

Lalu ketika di awal SMA saya mulai menyenangi permainan basket. Hampir setiap hari saya habiskan waktu untuk latihan dribble dan teknik mengelabui lawan. Oh, saya sungguh sangat menyukai basket.

Lantas, selepas SMA hati saya jatuh pada hal-hal yang berbau desain web. Terutama pada web yang menggunakan cms WordPress dan framework genesis. Saking sukanya, saya mulai belajar pemrograman secara otodidak. Tahap demi tahap. Belajar siang dan malam.

Lambat laun kemampuan pemrograman saya mencapai tingkat yang lumayan. Dimana saya bisa mengotak-atik desain penampilan website saya sesuai selera.

Dan masih banyak lagi hal lainnya.

Lalu apa sebenarnya passion saya? Saya tidak tahu.

Begitulah adanya. Manusia cenderung suka akan banyak hal. Saya, kamu, dan Kaesang pasti menyukai lebih dari satu hal.

Kenyataan inilah yang kemudian menjadi sulit bagi seseorang menemukan apa passion atau hasrat yang akan ia geluti nanti.

Selain itu, mari coba kita lihat apa kata penelitian tentang ungkapan ‘temukan passionmu’ berikut ini.

Kekurangan dari Nasihat Temukan Passionmu

Dalam serial studi laboratorium yang dilakukan oleh Carol Dwek, Paul O’ Keefe, dan Gregory Walton, menemukan bahwa ungkapan “temukan passionmu” ternyata membawa implikasi tersembunyi.

Yaitu memberikan pola pikir pada seseorang akan kemudahan dalam menekuni passion ketika ia menemukannya.

Padahal, penelitian menunjukkan ketika seseorang menemukan suatu tantangan (cukup berat), pola pikir seperti diatas justru akan membuat orang tersebut mudah menyerah pada ketertarikan (hasrat) yang baru saja ia temukan.

Hal ini diakibatkan oleh pola pikir tetap seseorang yang tercipta dari ungkapan “temukan passionmu”.

Ungkapan temukan passionmu menyiratkan arti bahwa setiap orang hanya memiliki passion tertentu saja. Dan itu harus ditemukan.

Sehingga, seseorang akan berpikir, seharusnya ketika dia menemukan sebuah passion atau ketertarikannya pada satu hal, ia semestinya tidak akan mengalami kesulitan saat menggeluti hal yang menjadi passionnya tersebut.

Jika ia mengalami kesulitan, maka bidang itu berarti bukanlah passionnya. Salah satu tipikal orang dengan pola pikir tetap. Berpikir bahwa passion itu sudah ada dan hanya menunggu untuk ditemukan. Bukannya dikembangkan.

Selain itu, ide passion juga menyiratkan bahwa seseorang seharusnya hanya mempelajari hal yang ia sukai saja. Dan mengabaikan bidang lainnya.

Padahal, menurut Walton, banyak kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan bisnis terjadi ketika seseorang menggabungkan dua bidang yang berbeda bersama-sama, yakni saat seseorang melihat koneksi baru antara suatu bidang yang mungkin belum pernah dilihat sebelumnya.

Jika kamu terlalu berfokus dan berkomitmen pada satu area saja, itu bisa mencegah kamu mengembangkan minat dan keahlian yang kamu butuhkan untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kamu. Tambah Walton, profesor psikologi Universitas Stanford.

Ringkasnya, istilah temukan passionmu yang terlalu dilebih-lebihkan ini akan membawa dua dampak negatif, yaitu:

  1. Menumbuhkan karakter mudah menyerah karena pola pikir tetap
  2. Membatasi potensi yang dimiliki seseorang

Jika kamu terlalu berfokus dan berkomitmen pada satu area saja, itu bisa mencegah kamu mengembangkan minat dan keahlian yang kamu butuhkan untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kamu

Gregory Walton

Jika demikian, lantas apa yang seharusnya kamu lakukan?

Tumbuhkan Passionmu

Iya, ungkapan ini akan jauh lebih baik daripada menyuruh orang untuk menemukan passion mereka.

Menurut Walton, jika kamu melihat suatu hal dan berpikir, ‘itu terlihat menarik, itu bisa menjadi satu area dimana saya bisa membuat sebuah kontribusi’, lalu kamu menginvestasikan dirimu di dalamnya, kamu meluangkan waktu untuk menggelutinya, kamu bertemu dengan tantangan-tantangan, seiring waktu kamu akan membentuk komitmen itu (komitmen untuk fokus menggeluti passionmu).

Sementara itu profesor psikologi, Carol Dweck, juga mencatat perubahan pada perilaku dari mahasiswanya yang dulunya kagum dan percaya pada ungkapan temukan passionmu, kini mulai jauh lebih tertarik pada gagasan tumbuhkan passionmu dan lihat bagaimana hasilnya. Mereka menyadari bahwa begitulah cara mereka dan masa depan mereka terbentuk.

Kesimpulan

Berhentilah mencari passionmu. Dan mulailah untuk menumbuhkan passionmu dari sekarang.

Penjelasan resmi dari penelitian ini bisa kamu temukan dengan mengunjungi laman kabar Universitas Stanford.

Author

Freelance Writer, Blogger, and Finance enthusiast. Blog ini saya buat untuk berbagi tips finansial, investasi, dan berbagai cara menghasilkan uang dari internet. Hubungi halo@zaipad.com untuk perihal pertanyaan dan kerjasama.

Write A Comment

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!