Portofolio Reksadana Turun? Jangan Panik, Ini Tipsnya!

Apa yang akan kamu lakukan saat melihat portofolio reksadana turun? Apakah kamu tetap santai, memanfaatkan peluang yang ada untuk tambah portofolio, atau justru langsung panik dan buru-buru menjual reksadana?

Setiap orang pasti memiliki respon yang berbeda-beda. Kalau saya, biasanya akan melihat situasi dulu sebelum memutuskan tindakan selanjutnya.

Entah itu menunggu (wait and see), cut loss sebagian atau full, atau justru disuntik modal lagi biar makin gendut.

Sebagai investor, tentu wajar bila kita merasa khawatir saat melihat portfolio reksadana turun. Terlebih jika penurunan nilai aset yang terjadi sangat dalam. Misalnya, waktu 2008 lalu ketika IHSG turun drastis mencapai -61,63% dalam kurun waktu 11 bulan saja.

5 Tips Investasi saat Portofolio Reksadana Turun

Tanpa berharap kejadian serupa bakal terulang lagi di masa depan, sebagai investor, kita harus senantiasa waspada dan siap dengan segala kemungkinan.

Nah, salah satu cara memastikan diri kita siap adalah dengan mengetahui apa saja tips yang bisa kita lakukan saat mendapati portofolio reksadana turun di masa depan sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.

1.  Tinjau kembali rencana investasimu

Portofolio Reksadana Turun? Jangan Panik, Ini Tipsnya! 1

Jangan cepat-cepat ambil keputusan saat melihat portofolio reksadana turun. Sebaliknya, coba untuk bersikap tenang dan tinjau kembali tujuan dan rencana investasimu.

Cek seberapa signifikan pengaruh penurunan nilai reksa dana yang terjadi terhadap tujuan investasi atau tingkat kesehatan finansialmu. Jika efeknya minimal, tidak usah diambil pusing.

Misal, ketika penurunan nilai reksadana tidak seberapa atau ketika tujuanmu adalah investasi jangka panjang sehingga merasa ini bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.

Ambil keputusan untuk beli atau jual reksa dana hanya ketika kamu merasa penurunan NAB reksa dana memiliki efek yang signifikan terhadap portofolio investasimu secara keseluruhan. Misal, ketika harga reksadana tersebut turun drastis mencapai puluhan persen.

Baca juga: 7 Investasi Jangka Pendek Paling Menguntungkan, Apa Saja?

2.  Ubah komposisi Investasi

Maksudnya, jika kamu mendiversifikasikan portofolio ke beberapa jenis reksadana, maka cara ini bisa dilakukan untuk menjaga nilai total portofolio investasi reksadana kamu tetap stabil. Alias kalau turun, turunnya tidak begitu dalam.

Sebagai contoh, asumsi kamu berinvestasi reksadana di tiga jenis reksadana berbeda dengan komposisi sebagai berikut: reksadana saham 50%, reksadana pendapatan tetap 30%, dan reksadana pasar uang 20%.

Kemudian, suatu hari pasar saham di Indonesia anjlok sehingga membuat nilai NAB reksadana saham yang kamu beli juga ikut turun nilainya. Apabila kamu tidak tahan melihat portofolio reksadana saham yang turun terus, kamu boleh mengubah komposisi portofolio kamu.

Misal, mengurangi komposisi reksadana saham pada total portofolio menjadi 20% lalu meningkatkan alokasi untuk instrumen reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang di saat yang sama. Dengan begitu, nilai total portofolio reksadana kamu akan kembali seimbang.

Jika kamu menggunakan aplikasi Bibit, kamu dapat mengubah alokasi portofolio reksadana secara cepat dan otomatis lewat fitur robo advisor. Sehingga kamu tidak perlu repot hitung manual lagi.  

Robo Advisor Bibit
Ubah komposisi portofolio investasi dengan fitur Robo Advisor Bibit

📢 Mau dapat cashback reksadana Rp25.000 GRATIS dari Bibit? Daftar dan masukkan kode referral -> zaipad50 saat registrasi

Baca juga: Review Aplikasi Bibit – Investasi Reksadana Mudah dan Otomatis (Update 2021)

3.  Investasi secara berkala

Terdapat dua strategi umum dalam berinvestasi reksadana. Pertama, lump sum dan kedua Dollar Cost Averaging (DCA).

Investasi dengan metode lump sum artinya kamu berinvestasi hanya satu kali namun dalam jumlah yang banyak sekaligus. Sedangkan metode DCA adalah kebalikannya, alias investasi dengan cara dicicil secara berkala, bisa per hari, per minggu, per bulan, dan seterusnya.

Di antara kedua metode tersebut, cara investasi dengan DCA adalah yang paling disarankan jika kamu berinvestasi di instrumen reksadana yang volatil seperti reksadana saham.

Soalnya, dengan metode DCA, kamu tidak akan mudah terpengaruh dengan pergerakan harga yang terjadi di pasar. Sebab yang menjadi fokus utama kamu adalah konsisten investasi secara berkala.

Selain membuat kamu tidak mudah terpengaruh, investasi reksadana dengan metode DCA juga secara tidak langsung akan membuat nilai pembelian investasi rata-rata kamu menjadi lebih optimal karena pasti ada saat-saat dimana kamu membeli reksadana ketika harganya sedang turun.

Berinvestasi dengan metode DCA lebih mudah dilakukan bila terdapat fitur yang membantu investor untuk nabung reksadana secara rutin. Di aplikasi Bibit, misalnya, tersedia fitur nabung rutin Gopay AutoPay dan Bank Jago Autodebit yang bisa kamu gunakan untuk beli reksadana secara otomatis dalam jumlah tertentu secara berkala (mingguan atau bulanan).

Fitur nabung rutin di aplikasi Bibit
Fitur nabung rutin di Bibit bisa pake Gopay atau Bank Jago

Baca juga: Cara Daftar Bank Jago lewat Aplikasi Bibit, Mudah!

4.  Beli Saat Diskon

Portofolio reksadana turun tidak selamanya berarti buruk. Bagi investor berpengalaman, hal ini justru seringkali dianggap sebagai kesempatan untuk beli reksadana di harga diskon. Dengan begitu, mereka dapat meraih keuntungan yang lebih banyak lagi saat harga reksadana berbalik arah.

Saat mendapati nilai investasi reksadana kamu turun, kamu juga bisa meniru pola pikir investor tersebut. Anggap bahwa penurunan nilai portofolio ini sebagai peluang kamu untuk membeli lebih banyak unit penyertaan reksadana di harga diskon.

5.  Lakukan Cut Loss

Tips terakhir bagi kamu yang mengalami penurunan nilai investasi reksadana adalah melakukan cut loss atau memotong kerugian. Metode ini sudah pasti akan membuatmu rugi, tapi tidak terlalu.

Cut Loss (CL) sebaiknya dijadikan sebagai opsi terakhir dan hanya dilakukan ketika kamu yakin bahwa harga reksadana akan lama mengalami koreksi atau kamu ingin segera mencairkan uang tersebut untuk dipakai memenuhi kebutuhan mendesak.

Kesimpulan

Tidak perlu panik saat portofolio reksadana turun, karena hal ini adalah sesuatu yang wajar. Daripada panik, lakukan kelima tips di atas lalu putuskan apa tindakan selanjutnya yang tepat sesuai dengan kondisimu. Apakah lebih baik wait and see, tambah portofolio investasi, atau cut loss? Kamu yang tentukan!

Zai Alam

A lifelong learner, blogger and part-time investor. I love sharing about personal finance and cuan-related tips. Connect with me on Twitter. (Disclaimer: not a financial advisor)

Tinggalkan komentar